Penyajian Data
Statistik dalam Bentuk
Tabel, Diagram Batang, Garis, Lingkaran, Tabel Distribusi Frekuensi, Relatif
dan Kumulatif, Histogram, Poligon Frekuensi, dan Ogive, Contoh Soal, Jawaban,
Matematika - Ada dua cara penyajian data yang sering dilakukan, yaitu
a) daftar atau tabel,
b) grafik atau diagram.
1. Penyajian Data dalam Bentuk Tabel
Misalkan, hasil ulangan
Bahasa Indonesia 37 siswa kelas XI SMA 3 disajikan dalam tabel di bawah.
Penyajian data pada Tabel 1.1 dinamakan penyajian data sederhana. Dari tabel
1.1, Anda dapat menentukan banyak siswa yang mendapat nilai 9, yaitu sebanyak 7
orang. Berapa orang siswa yang mendapat nilai 5? Nilai berapakah yang paling
banyak diperoleh siswa?
Jika data hasil ulangan
bahasa Indonesia itu disajikan dengan cara mengelompokkan data nilai siswa,
diperoleh tabel frekuensi berkelompok seperti pada Tabel 2.. Tabel 2. dinamakan
Tabel Distribusi Frekuensi.
Tabel 1. Penyajian data
sederhana
data sederhana
nilai
|
frekuensi
|
2
|
7
|
4
|
3
|
5
|
5
|
6
|
4
|
7
|
10
|
9
|
7
|
10
|
1
|
Tabel 2. Tabel Distribusi Frekuensi
Interval Kelas
|
Turus
|
Frekuensi
|
1-2
|
EB
|
7
|
3-4
|
C
|
3
|
5-6
|
EC
|
8
|
7-8
|
EE
|
10
|
9-10
|
EC
|
8
|
jumlah
|
37
|
2. Penyajian Data dalam Bentuk
Diagram
Kerapkali data yang
disajikan dalam bentuk tabel sulit untuk dipahami. Lain halnya jika data
tersebut disajikan dalam bentuk diagram maka Anda akan dapat lebih cepat
memahami data itu. Diagram adalah gambar yang menyajikan data secara visual
yang biasanya berasal dari tabel yang telah dibuat. Meskipun demikian, diagram
masih memiliki kelemahan, yaitu pada umumnya diagram tidak dapat memberikan
gambaran yang lebih detail.
a. Diagram
Batang
Diagram batang biasanya
digunakan untuk menggambarkan data diskrit (data cacahan). Diagram batang
adalah bentuk penyajian data statistik dalam bentuk batang yang dicatat dalam
interval tertentu pada bidang cartesius.
Ada dua jenis diagram
batang, yaitu
- diagram batang vertikal, dan
- diagram batang horizontal.
Contoh Soal 1 :
Selama 1 tahun, toko
"Anggo" mencatat keuntungan setiap bulan sebagai berikut.
Tabel 3. Keuntungan Toko
"Anggo" per Bulan (dalam jutaan rupiah)
Bulan ke
|
2,5
|
1.8
|
2,8
|
4,2
|
3,5
|
3,3
|
4,0
|
5,0
|
2.0
|
4,2
|
6,2
|
6,2
|
keuntungan
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
10
|
12
|
13
|
a. Buatlah diagram
batang vertikal dari data tersebut.
b. Berapakah keuntungan
terbesar yang diperoleh Toko "Anggo" selama 1 tahun?
c. Kapan Toko
"Anggo" memperoleh keuntungan yang sama selama dua bulan
berturut-turut?
Penyelesaian :
a. Diagram batang
vertikal dari data tersebut, tampak pada gambar berikut.

| Gambar 1. Diagram batang vertikal Keuntungan Toko "Anggo" per Bulan (dalam jura rupiah) |
b. Dari diagram tersebut
tampak bahwa keuntungan terbesar yang diperoleh Toko "Anggo" selama 1
tahun adalah sebesar Rp 6.200.000,00.
c. Toko
"Anggo" memperoleh keuntungan yang sama selama dua bulan
beturut-turut pada bulan ke-11 dan ke-12.
b. Diagram Garis
Pernahkah Anda melihat
grafik nilai tukar dolar terhadap rupiah atau pergerakan saham di TV? Grafik
yang seperti itu disebut diagram garis. Diagram garis biasanya digunakan untuk
menggambarkan data tentang m keadaan yang berkesinambungan (sekumpulan data
kontinu). Misalnya, jumlah penduduk setiap tahun, perkembangan berat badan bayi
setiap bulan, dan suhu badan pasien setiap jam.
Seperti halnya diagram
batang, diagram garis pun memerlukan sistem sumbu datar (horizontal) dan sumbu
tegak (vertikal) yang saling berpotongan tegak lurus. Sumbu mendatar biasanya
menyatakan jenis data, misalnya waktu dan berat. Adapun sumbu tegaknya
menyatakan frekuensi data. Langkah-langkah yang dilakukan untuk membuat diagram
garis adalah sebagai berikut.
- Buatlah suatu koordinat
(berbentuk bilangan) dengan sumbu mendatar menunjukkan waktu dan sumbu
tegak menunjukkan data pengamatan.
- Gambarlah titik koordinat yang
menunjukkan data pengamatan pada waktu t.
- Secara berurutan sesuai dengan
waktu, hubungkan titiktitik koordinat tersebut dengan garis lurus.
Contoh Soal 2 :
Berikut ini adalah tabel
berat badan seorang bayi yang dipantau sejak lahir sampai berusia 9 bulan.
Usia(bulan)
|
3,5
|
4
|
5,2
|
6,4
|
6,8
|
7,5
|
7,5
|
8
|
8,8
|
8,6
|
Berat badan(kg)
|
0
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
a. Buatlah diagram garisnya.
b. Pada usia berapa
bulan berat badannya menurun?
c. Pada usia berapa
bulan berat badannya tetap?
Pembahasan :
a. Langkah ke-1
Buatlah sumbu mendatar
yang menunjukkan usia anak (dalam bulan) dan sumbu tegak yang menunjukkan berat
badan anak (dalam kg).
Langkah ke-2
Gambarlah titik
koordinat yang menunjukkan data pengamatan pada waktu t bulan.
Langkah ke-3
Secara berurutan sesuai
dengan waktu, hubungkan titik-titik koordinat tersebut dengan garis lurus.

b. Dari diagram tersebut dapat dilihat bahwa berat badan bayi menurun pada usai 8 sampai 9 bulan.
c. Berat badan bayi tetap pada usia 5 sampai 6 bulan. Darimana Anda memperoleh hasil ini? Jelaskan.
Observasi: Interpolasi dan Ekstrapolasi Data
Anda dapat melakukan observasi terhadap kecenderungan data yang disajikan pada suatu diagram garis. Dari observasi ini, Anda dapat membuat perkiraan-perkiraan dengan cara interpolasi dan ekstrapolasi. Hal ini ditempuh dengan mengganti garis patah pada diagram garis menjadi garis lurus. Interpolasi data adalah menaksir data atau memperkirakan data di antara dua keadaan (misalnya waktu) yang berurutan. Misalkan, dari gambar grafik Contoh soal 2. dapat diperkirakan berat badan bayi pada usia 5,5 bulan. Coba Anda amati grafik tersebut, kemudian tentukan berat badan bayi pada usia 5,5 bulan.
Ekstrapolasi data adalah menaksir atau memperkirakan data untuk keadaan (waktu) mendatang. Cara yang dapat dilakukan untuk ekstrapolasi adalah dengan memperpanjang ruas garis terujung ke arah kanan. Misalkan, dari gambar grafik soal 2. dapat diperkirakan berat badan bayi pada usia 10 bulan. Jika garis lurus sudah ditentukan, Anda dapat menentukan interpolasi data. Untuk ekstrapolasi data, Anda harus berhati-hati. Menurut diagram garis, berapa kira-kira berat badan bayi pada usia 10 bulan? Berikan alasan Anda.
c. Diagram Lingkaran
Untuk mengetahui perbandingan suatu data terhadap keseluruhan, suatu data lebih tepat disajikan dalam bentuk diagram lingkaran. Diagram lingkaran adalah bentuk penyajian data statistika dalam bentuk lingkaran yang dibagi menjadi beberapa juring lingkaran.
Langkah-langkah untuk membuat diagram lingkaran adalah sebagai berikut.
- Buatlah sebuah lingkaran pada kertas.
- Bagilah lingkaran tersebut menjadi beberapa juring lingkaran untuk menggambarkan kategori yang datanya
- telah diubah ke dalam derajat.
Agar lebih jelasnya, pelajarilah contoh berikut.
Contoh Soal 3 :
Tabel berikut menunjukkan banyaknya siswa di suatu kabupaten menurut tingkat sekolah pada tahun 2007.
|
Tingkat pendidikan
|
Banyaknya siswa
|
|
SD
SMP
SMA
|
175
600
225
|
. Buatlah diagram lingkaran untuk data tersebut.
b. Berapa persen siswa yang menyelesaikan sekolah sampai pada tingkat SMP?
c. Berapa persen siswa yang menyelesaikan sekolah sampai pada tingkat SMA?
Pembahasan :
a. Jumlah seluruh siswa adalah 1.000 orang. Seluruh siswa diklasifikasikan menjadi 5 katagori: SD = 175 orang, SMP = 600 orang, dan SMA = 225 orang.
• Siswa SD = (175/1.000) x 100% = 17,5%
Besar sudut sektor lingkaran = 17,5% × 360° = 63°
• Siswa SMP = (600/1.000) x 100% = 60%
Besar sudut sektor lingkaran = 60% × 360° = 216°
• Siswa SMA= (225/1.000) 100% = 22,5%
Besar sudut sektor lingkaran = 22,5% × 360° = 81°
Diagram lingkaran ditunjukkan pada Gambar 3.

b. Persentase siswa yang menyelesaikan sekolah sampai pada tingkat SMP adalah 60%.
c. Persentase siswa yang menyelesaikan sekolah sampai pada tingkat SMAadalah 22,5%.
. Tabel Distribusi Frekuensi, Frekuensi Relatif dan Kumulatif, Histogram, Poligon Frekuensi, dan Ogive
a. Tabel Distribusi Frekuensi
Data yang berukuran besar (n > 30) lebih tepat disajikan dalam tabel distribusi frekuensi, yaitu cara penyajian data yang datanya disusun dalam kelas-kelas tertentu.
Langkah-langkah penyusunan tabel distribusi frekuensi adalah sebagai berikut.
• Langkah ke-2 menentukan banyak interval (K) dengan rumus "Sturgess" yaitu: K= 1 + 3,3 log n dengan n adalah banyak data. Banyak kelas harus merupakan bilangan bulat positif hasil pembulatan.
• Langkah ke-3 menentukan panjang interval kelas (I) dengan menggunakan rumus:
I = J/K
• Langkah ke-4 menentukan batas-batas kelas. Data terkecil harus merupakan batas bawah interval kelas pertama atau data terbesar adalah batas atas interval kelas terakhir.
• Langkah ke-5 memasukkan data ke dalam kelas-kelas yang sesuai dan menentukan nilai frekuensi setiap kelas dengan sistem turus.
• Menuliskan turus-turus dalambilangan yang bersesuaian dengan banyak turus.
Ingatlah :
Menentukan banyak kelas interval dengan aturan Sturges dimaksudkan agar interval tidak terlalu besar sebab hasilnya akan menyimpang dari keadaan sesungguhnya. Sebaiknya, jika interval terlalu kecil, hasilnya tidak menggambarkan keadaan yang diharapkan.
b. Frekuensi Relatif dan Kumulatif
Frekuensi yang dimiliki setiap kelas pada tabel distribusi frekuensi bersifat mutlak. Adapun frekuensi relatif dari suatu data adalah dengan membandingkan frekuensi pada interval kelas itu dengan banyak data dinyatakan dalam persen. Contoh: interval frekuensi kelas adalah 20. Total data seluruh interval kelas = 80 maka frekuensi relatif kelas ini adalah 20/8 = ¼, sedangkan frekuensi relatifnya adalah ¼ × 100% = 25%.
Dari uraian tersebut, dapatkah Anda menyatakan rumus frekuensi relatif? Cobalah nyatakan rumus frekuensi relatif dengan kata-kata Anda sendiri.
Frekuensi relatif dirumuskan sebagai berikut.
Frekuensi relatif kelas ke-k = frekuensi kelas ke-k / banyak data
Frekuensi kumulatif kelas ke-k adalah jumlah frekuensi pada kelas yang dimaksud dengan frekuensi kelas-kelas sebelumnya.
Ada dua macam frekuensi kumulatif, yaitu
- frekuensi kumulatif "kurang dari" ("kurang dari" diambil terhadap tepi atas kelas);
- frekuensi kumulatif "lebih dari" ("lebih dari" diambil terhadap tepi bawah kelas).
Tepi atas = batas atas + ½ satuan pengukuran
Tepi bawah = batas bawah - ½ satuan pengukuran
Contoh Soal 5 :
Dari Tabel 4. untuk interval kelas 46 – 55 (kelas 4), hitunglah
a. frekuensi relatif;
b. frekuensi kumulatif "kurang dari";
c. frekuensi kumulatif "lebih dari".
Penyelesaian :
a. Frekuensi relatif kelas ke-4 = (frekuensi kelas ke-4 / banyak datum) x 100 % = 10/35 x 100% = 28,57%
b. Frekuensi kumulatif "kurang dari" untuk interval kelas 46 – 55
= 5 + 3 + 9 + 10 = 27 (kurang dari tepi atas kelas 55,5)
c. Frekuensi kumulatif "lebih dari" untuk interval kelas 46 – 55
= 10 + 6 + 2 = 18 (lebih dari tepi bawah kelas 45,5).
c. Histogram dan Poligon Frekuensi
Histogram merupakan diagram frekuensi bertangga yang bentuknya seperti diagram batang. Batang yang berdekatan harus berimpit. Untuk pembuatan histogram, pada setiap interval kelas diperlukan tepi-tepi kelas. Tepi-tepi kelas ini digunakan unntuk menentukan titik tengah kelas yang dapat ditulis sebagai berikut.
Titik tengah kelas = ½ (tepi atas kelas + tepi bawah kelas)
Poligon frekuensi dapat dibuat dengan menghubungkan titik-titik tengah setiap puncak persegipanjang dari histogram secara berurutan. Agar poligon "tertutup" maka sebelum kelas paling bawah dan setelah kelas paling atas, masing-masing ditambah satu kelas.
d. Ogive (Ogif)
Grafik yang menunjukkan frekuensi kumulatif kurang dari atau frekuensi kumulatif lebih dari dinamakan poligon kumulatif.
Untuk populasi yang besar, poligon mempunyai banyak ruas garis patah yang menyerupai kurva sehingga poligon frekuensi kumulatif dibuat mulus, yang hasilnya disebut ogif.
Ada dua macam ogif, yaitu sebagai berikut.
a. Ogif dari frekuensi kumulatif kurang dari disebut ogif positif.
b. Ogif dari frekuensi kumulatif lebih dari disebut ogif negatif.
adapun:. Ogif positif dan ogif negatif dari tabel tersebut tampak:

b. Ogif dari frekuensi kumulatif lebih dari disebut ogif negatif.
b. Dari kurva ogif positif, tampak siswa yang mempunyai nilai kurang dari 85 adalah sebanyak 93 orang.
c. Dari kurva ogif negatif, tampak siswa yang mempunyai nilai lebih dari 40 adalah sebanyak 96 orang.